BUNTOK – Jumlah titik panas atau hotspot di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, mengalami lonjakan tajam dari Agustus ke September 2026. Berdasarkan data resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, jumlah titik panas meningkat dari 2.398 titik pada Agustus menjadi 4.965 titik pada September.
Data tersebut disampaikan Kepala BPBD Barsel, Agus In’Yulius, dalam konferensi pers penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Aula Kantor BPBD Barsel, Jumat (16/10/2026). Kegiatan itu turut menghadirkan Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, serta dihadiri sejumlah jurnalis.
Agus mengatakan, peningkatan jumlah titik panas tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena menunjukkan tingginya aktivitas kebakaran hutan dan lahan di wilayah Barsel.
“Pada bulan Agustus, kami mencatat ada 2.398 titik panas yang terdeteksi. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat di bulan September menjadi 4.965 titik,” ujarnya.
Menurut Agus, kondisi tersebut berpotensi memperparah kerusakan lingkungan dan meningkatkan dampak kabut asap yang menyelimuti wilayah Barito Selatan hingga daerah sekitarnya.
Ia menjelaskan, dampak karhutla tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga mengancam keanekaragaman hayati serta keseimbangan ekosistem. Kebakaran yang terus berulang dapat merusak habitat berbagai jenis satwa dan tumbuhan, sementara pemulihan lingkungan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Karena itu, Agus mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten, untuk bersama-sama mencegah kebakaran, saling mengingatkan, serta mengawasi aktivitas pembukaan lahan agar tidak dilakukan dengan cara membakar.
“Setiap hari tim kami bergerak ke lapangan bersama TNI dan Polri, berjuang melawan api yang tak kunjung padam. Kami sudah tiga kali masuk masa tanggap darurat dan setiap kali itu pula kami berharap ini adalah masa terakhir,” tegasnya.
Ia menekankan, upaya pemadaman dan penanganan karhutla harus disertai kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Barsel, dr. Dadang Baskoro Nugroho, mengingatkan bahwa peningkatan karhutla dan kabut asap berdampak serius terhadap kesehatan masyarakat.
Menurut Dadang, kasus gangguan kesehatan, seperti sesak napas, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), hingga penyakit kulit, semakin banyak ditemukan seiring memburuknya kondisi udara.
Ia juga menyampaikan kabar duka mengenai dua warga yang dilaporkan meninggal dunia sehari sebelum konferensi pers tersebut. Namun, penyebab kematian dan keterkaitannya secara medis dengan paparan asap perlu dipastikan melalui keterangan serta data kesehatan yang terverifikasi.
Dadang mengimbau masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap. Warga diminta segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas atau keluhan lain yang semakin memburuk.
Dinas Kesehatan Barsel, lanjutnya, menyiapkan pelayanan kesehatan melalui 12 puskesmas dan satu rumah sakit untuk melayani masyarakat yang membutuhkan pemeriksaan maupun pengobatan.
“Jangan menunggu sakit parah baru berobat. Mulai sekarang, lindungi diri dan keluarga dari asap, gunakan masker, jaga kebersihan rumah, dan mari kita berdoa serta berusaha bersama agar bencana karhutla ini segera berlalu dari tanah kita,” pesannya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas di luar ruangan ketika kabut asap pekat, serta menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel asap.
Pemerintah daerah berharap sinergi antara BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat memperkuat upaya penanganan karhutla di Barito Selatan. Selain pemadaman, pencegahan melalui kesadaran bersama dinilai menjadi langkah penting untuk menekan jumlah kebakaran dan melindungi kesehatan masyarakat.(ed)

