Sel. Feb 3rd, 2026

Menjaga Persaudaraan Insan Pers di Malam Nisfu Sya’ban

Malam di Palangka Raya terasa lebih hangat dari biasanya.

Menjelang Nisfu Sya’ban, saat banyak orang mulai menata batin dan mempererat hubungan, silaturahmi justru menemukan maknanya yang paling sederhana namun mendalam.

Sekitar pukul 21.00 WIB, Senin malam (2/2/2026), H. Lutfi—wartawan sekaligus pemilik Media Kalsel Post dari Banjarmasin—bersama rekannya menyambangi kediaman Hartany Soekarno.

Tak ada protokoler, tak ada sekat formalitas.

Yang hadir hanyalah sesama insan pers yang dipertemukan oleh niat baik dan rasa persaudaraan.

Rumah itu menjadi ruang perjumpaan yang bersahaja.

Di tengah suasana sederhana namun penuh kehangatan, Hartany Soekarno menyambut para tamu dengan ketulusan yang mencerminkan semangat gotong royong.

Silaturahmi ini bukan sekadar kunjungan, melainkan pertemuan hati menjelang momen spiritual yang sarat makna.

“Wartawan sejati selalu kompak, tidak peduli di mana mereka berkiprah. Apalagi menjelang puasa Nisfu, momen yang mengajak kita untuk lebih erat hubungan dengan sesama,” ucap Hartany Soekarno dengan senyum yang menenangkan.

Kalimat itu mengalir ringan, namun sarat pesan.

Di tengah perbedaan identitas media dan wilayah liputan, dunia pers tetap berdiri di atas nilai yang sama: kebersamaan.

Pengalaman panjang Hartany di dunia jurnalistik membawanya pada satu keyakinan bahwa kode etik jurnalistik bukan sekadar aturan, melainkan fondasi yang menyatukan.

Menurutnya, justru di momen-momen seperti menjelang Nisfu Sya’ban, nilai-nilai itu menjadi semakin relevan untuk dijaga.

Pers bukan hanya soal kecepatan dan ketajaman berita, tetapi juga tentang sikap dan integritas.

“Kita harus selalu menjaga keharmonisan dan kebersamaan. Hanya dengan kompak, marwah pers dan kepercayaan publik yang kita emban akan tetap terjaga dengan baik,” tegasnya dengan nada tenang namun penuh makna.

Harapan itu tidak berhenti di ruang pertemuan malam tersebut.

Ia ingin nilai kebersamaan itu hidup dalam setiap karya jurnalistik, tercermin dalam cara menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi masyarakat, terutama menjelang dan selama bulan Ramadhan.

Pertemuan singkat itu pun berakhir tanpa hiruk-pikuk.

Namun maknanya tertinggal.

Bahwa di balik setiap berita, ada manusia yang saling menguatkan.

Silaturahmi ini menjadi pengingat bahwa profesi jurnalistik bukan hanya tentang menyampaikan fakta, melainkan juga tentang merawat hubungan dan menjaga kepercayaan.

Di sanalah esensi pers menemukan wajahnya yang paling manusiawi. (red)

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *