Sel. Mei 5th, 2026

Di Balik Angka 5 Persen: Seberapa Kuat Ekonomi Kita?

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,11 persen pada tahun 2025. Angka 5 persen itu terdengar meyakinkan, dalam banyak kesempatan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran tersebut sering disebut sebagai tanda stabilitas. Di tengah kondisi global yang tidak menentu, capaian ini memang patut diapresiasi. Namun, kalau hanya berhenti di angka, kita bisa saja kehilangan gambaran yang lebih besar.

Coba lihat lebih rinci. Inflasi memang relatif terkendali, berada di angka 3,48 persen (yoy) pada Maret 2026 menurut Bank Indonesia, meskipun sebelumnya sempat naik ke 4,76 persen pada Februari 2026. Suku bunga acuan juga dijaga di kisaran 4,75 persen, menunjukkan bahwa otoritas moneter masih berhati-hati menjaga stabilitas. Di atas kertas, kondisi ini memberi kesan ekonomi yang cukup sehat.

Pasar tenaga kerja pun menunjukkan arah perbaikan. Tingkat pengangguran terbuka turun menjadi sekitar 4,5 persen pada 2025, sementara angka kemiskinan berada di kisaran 8 persen. Bahkan dari sisi ukuran ekonomi, Indonesia sudah mencapai PDB sekitar Rp23.800 triliun dengan pendapatan per kapita mendekati Rp83 juta per tahun.

Tapi di titik inilah pertanyaan mulai muncul. Kalau ekonomi benar-benar kuat, kenapa rupiah masih bertahan di sekitar Rp16.000 per dolar AS? Nilai tukar yang melemah bukan hanya soal pasar keuangan, tapi juga mencerminkan adanya tekanan dari luar. Apalagi ketika neraca transaksi berjalan masih defisit sekitar -1 persen dari PDB yang berarti ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal masih cukup besar.

Hal ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi kita belum sepenuhnya tahan terhadap guncangan global.

Di sisi lain, pertumbuhan 5 persen sendiri sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia cenderung bergerak di kisaran yang sama tanpa perubahan signifikan. Stabil, iya. Tapi cukupkah? Banyak yang berpendapat bahwa untuk benar-benar naik kelas, Indonesia butuh pertumbuhan yang lebih tinggi, setidaknya di atas 6 persen.

Masalahnya bukan hanya soal tinggi atau rendahnya angka, tapi juga soal kualitasnya.

Tidak semua sektor berkembang secara merata dan tidak semua masyarakat merasakan manfaat yang sama. Di satu sisi, data makro terlihat baik. Di sisi lain, masih banyak yang merasa daya belinya tidak banyak berubah. Kenaikan pendapatan sering kali diikuti oleh kenaikan pengeluaran, sehingga ruang untuk benar-benar sejahtera terasa sempit. Di sinilah terlihat bahwa kekuatan ekonomi tidak bisa hanya diukur dari satu indikator.

Pertumbuhan yang stabil memang penting, tapi tanpa pemerataan dan ketahanan yang kuat, angka tersebut bisa jadi hanya memberi rasa aman semua. Apalagi dalam situasi global yang mudah berubah, ekonomi yang benar-benar kuat adalah ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga mampu bertahan dan memberi manfaat luas.

Jadi, di balik angka 5 persen itu, mungkin yang perlu kita lihat bukan hanya seberapa besar pertumbuhannya, tetapi seberapa kokoh dasar yang menopangnya.

Untuk itu, pertumbuhan ekonomi perlu diarahkan pada penguatan sektor produktif bernilai tambah, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pengurangan ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal melalui penguatan ekspor dan investasi yang berkualitas. Dengan demikian, tantangan Indonesia hari ini bukan lagi sekadar menjaga angka pertumbuhan di level aman, melainkan memastikan bahwa setiap persen pertumbuhan benar-benar dibangun di atas fondasi ekonomi yang inklusif, tangguh, dan berdaya saing jangka panjang. (*)

Oleh: Najla Farzana Erdin

Mahasiswi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *