Masyarakat Indonesia, mulai dari pelaku UMKM hingga konsumen rumah tangga, kini menghadapi tekanan ekonomi baru. Harga berbagai jenis produk plastik, mulai dari kantong kresek hingga kemasan makanan, mengalami lonjakan drastis dalam satu bulan terakhir.
Fenomena ini merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran.
Putusnya Rantai Pasok Nafta di Selat Hormuz
Kenaikan harga plastik yang signifikan ini berakar pada terganggunya pasokan Nafta, yaitu material turunan minyak bumi yang menjadi bahan baku utama pembuatan polimer (plastik).
Data dari situs LBS Urun Dana, secara geopolitik, sekitar 70% pasokan bahan baku plastik dunia bergantung pada stabilitas di kawasan Timur Tengah. Penutupan atau blokade di Selat Hormuz jalur perdagangan vital yang saat ini berada di bawah kendali ketat militer Iran menyebabkan kapal-kapal pengangkut Nafta tidak dapat melintas. Akibatnya, pasokan bahan baku ke pabrik-pabrik plastik di Indonesia tersendat, yang memicu kenaikan harga bahan baku hingga 40% hingga 100% dalam jangka yang singkat.
Dampak Nyata di Tingkat Pedagang dan Konsumen
Di pasar domestik, lonjakan harga ini sangat terasa pada produk plastik siap pakai:
Kantong Kresek: Harga per pak yang sebelumnya Rp10.000 kini melonjak menjadi Rp15.000.
Plastik Kemasan Es: Mengalami kenaikan dari Rp34.000 menjadi Rp55.000.
Kantong Kresek Grosir (Isi 100): Di Kalimantan, harga dilaporkan meroket dari Rp20.000 menjadi Rp40.000, atau naik 100%.
Kondisi ini menempatkan pelaku usaha kecil, seperti pedagang makanan dan UMKM, dalam posisi sulit. Banyak pedagang terpaksa mempertahankan harga jual dagangannya demi menjaga loyalitas pembeli, meskipun margin keuntungan mereka tergerus tajam akibat biaya pengemasan yang tak terkendali.
Sentimen Global dan Proteksionisme
Krisis ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Tekanan pasokan telah memicu aksi proteksionisme di berbagai negara. Bahkan, Korea Selatan telah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bahan baku plastik untuk mengamankan stok dalam negeri mereka. Hal ini semakin memperparah kelangkaan di pasar internasional.
Jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda, dikhawatirkan kelangkaan bahan baku ini akan berdampak lebih luas, tidak hanya pada industri plastik, tetapi juga pada stabilitas harga pangan secara nasional karena naiknya biaya logistik dan pengemasan.
Untuk mengatasi dampak krisis ini, diperlukan langkah strategis dari berbagai pihak. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan diversifikasi sumber bahan baku dengan mencari alternatif impor dari negara lain agar tidak bergantung pada satu kawasan. Selain itu, pengembangan industri petrokimia dalam negeri juga perlu dipercepat guna menciptakan kemandirian bahan baku plastik.
Di sisi pelaku usaha, terutama UMKM, diperlukan inovasi dalam penggunaan bahan kemasan, seperti beralih ke bahan ramah lingkungan atau kemasan non-plastik yang lebih stabil harganya, seperti plastik biodegradable (seperti merek Enviplast atau Avani Eco) yang dapat terurai alami, tas spunbond, hingga eco bag pakai ulang yang bisa digunakan berkali-kali untuk mengurangi sampah plastik. Sementara itu, masyarakat juga dapat berperan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan mulai beralih ke produk yang lebih berkelanjutan.
Dengan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen, dampak krisis pasokan global ini dapat ditekan sehingga tidak terlalu membebani perekonomian nasional. (*)
Oleh : Resa Nabila
Mahasiswi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Palangka Raya

